MOROTAI, 11 November 2025 — Upaya memperkuat mutu pendidikan di Kabupaten Pulau Morotai terus mendapat perhatian berbagai pihak. Salah satu langkah strategis yang tengah berlangsung adalah pelaksanaan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) dalam rangka Studi Awal (Baseline Study) Program KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) yang digagas oleh Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) bekerja sama dengan Save the Children Indonesia.
Kegiatan ini berlangsung di Dinas Perpustakaan Kabupaten Pulau Morotai, dan diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh peserta.
Dalam forum tersebut, Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pulau Morotai turut diundang sebagai salah satu pemangku kepentingan utama. Melalui Seksi Pendidikan Islam (Pendis), Kemenag berperan memberikan masukan kontekstual terkait dinamika serta kebijakan pendidikan keagamaan di tingkat madrasah maupun lembaga pendidikan Islam lainnya.
Meski Kepala Seksi Pendis Mukmin Ali dan Operator Pendis Haiyun Musa berhalangan hadir karena agenda pendampingan tamu, keduanya menunjuk dua staf, yakni Sadli Jusuf dan Syarif Samiun, untuk mewakili dalam kegiatan tersebut. Kehadiran perwakilan Kemenag ini menjadi bagian penting dalam menyampaikan realitas pendidikan Islam di daerah kepulauan seperti Morotai.
Tujuan dan Arah Penelitian
Program KREASI dirancang untuk menghadirkan bukti awal yang kuat dan berbasis konteks lokal. Studi ini mencakup empat fokus utama, yaitu:
1. Kurikulum dan asesmen,
2. Praktik mengajar,
3. Kepemimpinan sekolah, dan
4. Perlindungan anak serta iklim sekolah yang aman.
Direktur Eksekutif PSPK, Dr. Nisa Felicia, menegaskan pentingnya kegiatan ini dalam membangun dasar kebijakan berbasis data.
“Studi awal ini menjadi pijakan untuk memahami capaian pembelajaran dan praktik pendidikan di lapangan. Hasilnya akan membantu kami merancang intervensi yang lebih tepat sasaran serta menilai perkembangan pendidikan dari waktu ke waktu,” ujar Nisa Felicia.
Sorotan Kemenag: Pembelajaran Aktif dan Inklusif
Dalam sesi diskusi, perwakilan Kemenag Morotai menyoroti sejumlah isu strategis yang tengah dihadapi madrasah dan lembaga keagamaan, di antaranya:
• Regulasi Daerah – Pengaruh kebijakan lokal terhadap pelaksanaan kurikulum dan pembelajaran di jenjang MI dan RA.
• Pengembangan Guru – Kebutuhan peningkatan kompetensi bagi tenaga pendidik madrasah dan pesantren di wilayah Morotai.
• Praktik Pembelajaran – Pengalaman guru dalam menerapkan metode belajar aktif dan inklusif di kelas.
Melalui penyampaian tersebut, Kemenag menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kapasitas lembaga pendidikan Islam agar lebih adaptif terhadap kebijakan nasional serta kebutuhan peserta didik di wilayah kepulauan.
Kolaborasi Lintas Sektor
Kabupaten Pulau Morotai menjadi satu dari delapan daerah di Indonesia yang terpilih sebagai lokasi studi awal Program KREASI. Pemilihan ini menunjukkan pentingnya kontribusi data dari wilayah kepulauan dalam memperkaya gambaran pendidikan nasional.
Selain Kemenag, kegiatan DKT ini juga dihadiri oleh Dinas Pendidikan, Bappeda, Dinas Sosial P3A, serta sejumlah organisasi profesi seperti PGRI dan IGI. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat menghasilkan pemetaan pendidikan yang lebih utuh dan solutif, sehingga upaya peningkatan mutu pembelajaran dapat berjalan berkelanjutan di Morotai dan wilayah lainnya.
pendidikan islam
18 Nov 2025
•
212 Views